Bandung — Masyarakat saat ini sedang menghadapi pilihan dalam menyikapi perkembangan informasi di dunia digital. Pertarungan antara algoritma media sosial dan etika jurnalistik menjadi tantangan yang harus disikapi secara serius oleh pengguna media.
Hal tersebut disampaikan Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Jawa Barat, Mujib Prayitno, dalam diskusi yang digelar di kampus Universitas Sali Al-Aitaam (Unisal) Bandung, Kamis (5/3/2026).
Dalam paparannya di hadapan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unisal, Mujib menjelaskan bahwa ekosistem digital telah mengubah cara publik mengakses dan mengonsumsi informasi. Algoritma media sosial bekerja berdasarkan interaksi pengguna, popularitas, serta potensi viralitas suatu konten, bukan pada prinsip akurasi dan verifikasi sebagaimana dijunjung tinggi dalam praktik jurnalistik.
“Jurnalisme berdiri di atas verifikasi, keberimbangan, dan tanggung jawab publik. Sementara algoritma dirancang untuk memaksimalkan engagement. Di sinilah terjadi pertarungan antara nilai dan mesin,” ujar Mujib.
Ia menyebutkan, derasnya arus informasi yang beredar di media sosial membuat tekanan terhadap media arus utama semakin besar. Dalam kondisi tersebut, kecepatan sering kali lebih diutamakan dibandingkan ketepatan informasi. Situasi ini berisiko mendorong sebagian media mengikuti pola viral demi mengejar trafik dan mempertahankan eksistensi di ruang digital.
Menurut Mujib, jika kondisi tersebut terus terjadi, maka kepercayaan publik terhadap media dapat tergerus. Oleh karena itu, tantangan tersebut harus dijawab dengan penguatan integritas serta profesionalisme jurnalis dalam menjalankan tugasnya.
Media, menurutnya, boleh memanfaatkan platform digital sebagai sarana distribusi informasi. Namun, media tidak boleh sepenuhnya tunduk pada logika algoritma yang hanya mengejar popularitas konten.
“Media sosial adalah alat, bukan penentu standar kebenaran. Etika jurnalistik tidak boleh dikompromikan demi klik dan like,” tegasnya.
Mujib juga mengajak mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Unisal untuk memahami bahwa masa depan pers tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh komitmen untuk menjaga nilai-nilai dasar jurnalistik.
Ia menekankan pentingnya literasi digital, kemampuan memeriksa fakta (fact-checking), serta keberanian menjaga independensi di tengah tekanan opini publik yang cepat berubah di media sosial.
Sementara itu, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unisal, Dery Fitriadi Ginanjar, mengatakan bahwa paparan Mujib Prayitno tersebut merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran dalam mata kuliah Monetisasi Konten Media.
Menurutnya, kegiatan diskusi ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam memperkuat wawasan mahasiswa terhadap dinamika industri media arus utama maupun perkembangan media sosial yang semakin pesat.
“Melalui forum akademik ini, diharapkan lahir generasi yang adaptif terhadap perkembangan algoritma digital, tetapi juga tetap teguh menjaga etika dan tanggung jawab sosial pers,” ujarnya.
Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Sali Al-Aitaam Bandung
Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Sali Al-Aitaam Bandung hadir sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi yang berkomitmen mencetak generasi komunikator profesional yang berakhlak, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.
Berlokasi di Ciganitri, Bojongsoang, Kabupaten Bandung, fakultas ini menjadi ruang akademik yang memadukan keilmuan komunikasi modern dengan nilai-nilai keislaman.
Program Studi S1 Ilmu Komunikasi yang diselenggarakan dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman teoritis sekaligus keterampilan praktis di bidang jurnalistik, penyiaran (broadcasting), dan hubungan masyarakat (public relations).
Kurikulum dikembangkan secara aplikatif agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep komunikasi, tetapi juga mampu memproduksi karya, mengelola pesan publik, serta membangun strategi komunikasi yang efektif di berbagai platform media, termasuk media digital.
Dalam proses pembelajaran, mahasiswa didorong untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan kreatif seperti festival komunikasi, produksi film pendek, fotografi, hingga praktik siaran.
Kolaborasi dengan berbagai institusi dan industri media juga menjadi bagian penting untuk memperluas wawasan serta pengalaman lapangan mahasiswa.
Dengan pendekatan akademik yang integratif dan berorientasi pada kebutuhan industri, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Sali Al-Aitaam Bandung berupaya melahirkan lulusan yang kompeten, berintegritas, dan siap berkontribusi di dunia kerja, baik sebagai jurnalis, presenter, praktisi humas, content creator, social media strategist, konsultan komunikasi, maupun berbagai profesi lain di industri media dan komunikasi modern.
Fikom Unisal juga bekerja sama dengan berbagai industri media untuk memperluas pengalaman lapangan mahasiswa. Selain itu, fakultas ini aktif dalam berbagai kegiatan kreatif mahasiswa, seperti festival komunikasi dan karya mahasiswa NexComFest, yang menjadi ruang pengembangan kemampuan praktis di bidang film pendek, fotografi, serta diskusi mengenai etika media.